Ikuti Kami untuk Info Terbaru

Ekonomi Syariah untuk Semua

Ekonomi Syariah untuk Semua

Mari Menjadi Bagian Gerakan Ekonomi Syariah di Tanah Jawara.

Ekonomi Syariah untuk Kesejahteraan Bersama

Ekonomi Syariah untuk kesejahteraan dan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Gerakan Ekonomi Syariah

Garda terdepan untuk membumikan ekonomi syariah.

Talkshow Interaktif MES Banten


Dalam rangka Milad MES Ke 18 dan Tahun Baru Hijriyah 1440 H.
MES Banten dengan Harmony FM mempersembahkan :

TALKSHOW INTERAKTIF

Sesi 1
Rabu, 12 September 2018
Pukul 17.00 - 18.00 WIB
Tema : Kenapa Harus Bank Syariah?

Narasumber :
1. Dr. Nurhanani dan Mr. Moh. Ali Roshidi (Fakultas Pengurusan dan Ekonomi  Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia)
2. Sofian Asmat (Pimpinan Cabang Bank Muamalat Serang)

Sesi 2
Kamis, 13 September 2018
Pukul 17.00 - 18.00 WIB
Tema : Asuransi Syariah dan Kredit Syariah.

Narasumber :
1. Dr. Moh Faiz Bin Mohamed Yusuf (Academy of Contemporary Islamic Study Universiti Tekonologi MARA Malaysia)
2. Dr.  Ade Jaya Sutisna (Kepala Cabang Bumiputera Syariah Serang)

Tempat : Panggung Teater Terbuka Hafmony FM, atau dengarkan di 98.1 Harmony FM.

Gratis Sertifikat untuk 50 peserta yang hadir di lokasi acara.

Jangan lupa datang ya, atau kalau belum sempat hadir, cukup nyalakan radio anda dan dengarkan di 98.1 Harmony FM.

SIlahkan bantu sebarkan, semoga bermanfaat.

Bersama Bumikan Ekonomi Syariah

[Info : 0818-0620-0078 / Farid]

Milad MES Ke 18



Hari ini, 18 tahun yang Lalu

Konsep ekonomi syariah mulai diperkenalkan kepada masyarakat ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1412 H | 1991 M yang kemudian diikuti oleh lembaga-lembaga keuangan lainnya. Hal ini mendorong diperlukan satu upaya bersama untuk melakukan sosialisasi ekonomi syariah secara terstruktur dan berkelanjutan kepada masyarakat luas.

Menyadari hal tersebut, 10 tahun kemudian pada hari Senin, tanggal 1 Muharram 1422 H | 26 Maret 2001 M lembaga-lembaga keuangan syariah berkumpul dan mengajak seluruh kalangan yang berkepentingan untuk membentuk suatu organisasi yang dinamakan Perkumpulan Masyarakat Ekonomi Syariah yang disingkat dengan MES.

Hari ini 1 Muharram 1440 H | 11 September 2018 MES memasuki usia Ke 18 tahun, bukanlah usia yang singkat. Dalam perjalanannya, MES telah banyak melalui dinamika organisasi yang terus menunjukkan tren positif. Banyak hal yang dilakukan dan capaian positif untuk mendorong akselerasi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Selamat Milad MES Ke 18, semoga tetap istiqomah, terus menjadi inspirasi dan terdepan dalam mendorong dan mengembangkan ekonomi syariah. Amiin

Lalu, apa yang sudah dan yang akan kita perbuat untuk ekonomi syariah Indonesia?

#MiladMES18
#MasyarakatEkonomiSyariah

Upaya Mengurangi Pengangguran di Banten


Oleh : Mujang Kurnia
(Ketua Bidang Kaderisasi dan Kepemudaan MES Wilayah Banten)


Beberapa pekan yang lalu, tepatnya pada bulan Mei kemarin, Provinsi Banten dikejutkan dengan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa angka pengangguran di Provinsi Banten per bulan Februari 2018 mengalami peningkatan menjadi 7,77% dari periode sebelumnya yaitu 7,75% pada tahun 2017 dan menempati peringkat kedua pengangguran terbesar nasional. Ironis, padahal provinsi ini adalah termasuk salah satu daerah industri terbesar nasional dengan memiliki kurang lebih 4.327 perusahaan. 

Tentu hal ini harus menjadi perhatian pemerintah dan juga setiap masyarakat di Provinsi Banten. Mengingat jumlah penduduk di provinsi ini mayoritas adalah muslim dan bahkan dikenal sebagai daerah yang religius, maka predikat pengangguran dengan jumlah tertinggi kedua secara nasional sepantasnya tidak terjadi di provinsi ini. Karena bagi seorang muslim, pengertian pengangguran adalah sama dengan tidak bekerja. Sedangkan bekerja dalam agama Islam adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan makhluk hidup dalam rangka menjalankan perintah Allah, bukan semata-mata untuk mempertahankan hidup, melainkan lebih dari itu yaitu ibadah.    

Sehingga jika kita merujuk pada pemahaman seperti di atas bahwa bekerja bagi seorang muslim adalah ibadah kepada Allah, maka menganggur adalah sebaliknya. Karena menganggur banyak mendatangkan masalah yang buruk, baik untuk keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian bagi masyarakat muslim yang notabene mayoritas di provinsi ini, menjadi pengangguran sangatlah tidak pantas dan terlebih lagi menyumbang kuantitas jumlah pengangguran yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Padahal telah ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran bahwa sejatinya setiap makhluk dijamin rezekinya oleh Allah, “dan tidak ada satu hewan melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (lauhil mahfudz)”. QS Huud ayat 6. 

Dalam ayat tersebut Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk, tugas kita adalah berikhtiar atau bekerja untuk memperolehnya. Dengan kata lain siapa yang bekerja maka dialah yang akan mendapatkan rezeki dari Allah. Jika ikhtiar tidak dilakukan atau menganggur maka dia tidak akan mendapatkan rezeki yang dijanjikan oleh Allah. Itulah konsep yang sempurna bagi setiap orang yang ditawarkan langsung oleh Allah untuk dijalankan setiap muslim. Maka jika pemahaman ini diresapi oleh setiap muslim khususnya yang berada di Banten, seharusnya masyarakat di provinsi ini tidak ada lagi yang berpangku tangan atau menganggur. 

Menurut Qardhawi, pengangguran itu terbagi menjadi dua, yaitu pengangguran karena terpaksa dan pengangguran karena pilihan. Yang pertama pengangguran karena terpaksa adalah pengangguran di mana seseorang tidak mempunyai hak sedikitpun untuk memilih status tersebut dan terpaksa menerimanya. Pengangguran seperti ini terjadi karena seseorang tidak mempunyai keterampilan atau keterbatasan, tetapi sebenarnya masih bisa digali dan dilatih. Untuk pengangguran jenis ini, pendekatan yang harus dilakukan adalah salah satunya bisa melalui bantuan pemerintah atau lembaga tertentu untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. Bantuan tersebut bukan sekedar uang atau bahan makanan yang cepat habis, melainkan alat-alat yang bisa menopang mereka untuk dapat bekerja. 

Sedangkan yang kedua, pengangguran karena pilihan adalah seseorang yang mempunyai potensi dan kemampuan untuk bekerja tetapi memilih untuk berpangku tangan dan bermalas-malasan sehingga menjadi beban bagi orang lain. Pendekatan yang harus dilakukan untuk pengangguran jenis ini adalah bukan melalui bantuan materi melainkan berupa motivasi agar mereka memfungsikan potensi yang mereka miliki. 

Kaitannya dengan yang terjadi di Provinsi Banten sebagai salah satu daerah industri terbesar nasional dan memiliki kurang lebih 4.327 perusahaan, akan tetapi menempati peringkat kedua pengangguran terbesar nasional, perlu ada penanganan yang tepat dan serius untuk mengurangi terjadinya pengangguran tersebut. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan,  pertama, menciptakan pendidikan berkualitas yang bisa diakses seluas-luasnya oleh setiap masyarakat Banten dan mendorong generasi muda untuk menuntut ilmu setinggi mungkin melalui berbagai cara di antaranya penyediaan beasiswa untuk sekolah dan kuliah, atau penambahan jumlah perguruan tinggi berkualitas di Banten agar semakin banyak yang masuk perguruan tinggi. Karena bagaimanapun pendidikan adalah kunci untuk masuk dunia kerja bahkan menciptakan lapangan pekerjaan. 

Selain itu, pemerintah juga harus memastikan pendidikan yang ada sesuai dengan kebutuhan industri atau dunia kerja, bukan hanya sekedar terlaksananya proses kegiatan belajar mengajar. Sehingga jika telah lulus dari sekolah bisa langsung terpakai di dunia kerja atau paling tidak memiliki mental kemandirian. Bagi lulusan perguruan tinggi, harus didorong setelah lulus kuliah untuk bisa menciptakan lapangan kerja, bukan menjadi bagian dari antrian pencari kerja atau malah menambah jumlah pengangguran. 

Kedua, mendorong lahirnya para pengusaha muda yang mampu menciptakan lapangan kerja dengan melakukan sinergi antara pemerintah dengan organisasi masyarakat seperti Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, ICMI, MES dan lain sebagainya serta komunitas kewirausahaan seperti Forum Kewirausahaan Pemuda (FKP), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Komunitas Pengusaha Muda Banten (KPMB), TDA, GENPRO, Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) dan masih banyak yang lainnya untuk melatih jiwa kewirausahaan. Pemerintah harus hadir di sini, berkolaborasi dan ikut turun tangan. Jika perlu, targetkan dengan jelas dan terukur capaiannya, harus benar-benar menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja, bukan lagi mencari kerja. 

Ketiga, industri atau lembaga perusahaan yang ada di Banten harus turut serta terlibat mendorong kemajuan generasi muda di Banten melalui pelatihan dan kerja sama dengan lembaga atau instansi pendidikan untuk membekali masyarakat dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan tenaga kerja perusahaan.

Keempat, manfaatkan teknologi digital (internet) untuk mengakses, berbagi, dan bahkan menciptakan lowongan pekerjaan. Selain memiliki ribuan perusahaan yang bisa diakses, Provinsi Banten memiliki potensi besar untuk destinasi wisata dan peluang usaha lainnya.  Pemerintah harus memfasilitasi akses internet untuk daerah-daerah tertentu agar masyarakat dapat mengakses dan mempublikasi potensi daerah atau produk-produk yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.

Kelima, bagi setiap masyarakat dan juga generasi muda yang ada di provinsi Banten, terutama yang masih belum mendapatkan pekerjaan, jangan berhenti ikhtiar. Ikutilah pelatihan-pelatihan keterampilan yang disediakan oleh pemerintah melalui BBLKI atau oleh pihak lain, sehingga dapat menjadi generasi yang terampil dan siap masuk dunia kerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja. Selalu berpikir kreatif dan milikilah insiatif untuk menjadi bagian dari pemberi solusi terhadap permasalahan yang ada di lingkungan sekitar.

Semoga upaya ini dapat menjadi perhatian kita semua, khususnya pemerintah dan umumnya semua masyarakat yang ada di Provinsi Banten. Allahu ‘alam.    


*Penulis adalah : 

1. Ketua Bidang Kaderisasi dan Kepemudaan MES Wilayah Banten
2. Ketua Umum Ikatan Alumni FEBI UIN Banten
3. CEO & Founder Media Karya Publishing
4. Penulis Buku Semua Bisa Kuliah


Workshop Pasar Modal Syariah Lebak



Sabtu, 28 Juli 2018 PD MES Lebak bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia kembali mengadakan literasi dan inklusi pasar modal syariah di daerah Lebak.

Secara resmi acara dibuka oleh Ketua Umum PD MES Lebak, KH. Asep Saefullah. Bertempat di Auditorium Gedung PGRI, acara dihadiri sekitar 108 peserta yang berasal dari kalangan pengusaha, pengurus ormas, organisasi kedaerahan dan LSM.

Hadir dalam acara tersebut, Doddy Prasetya sebagai Narasumber dari Bursa Efek Indonesia dan Ekky Topan dari MNC Sekuritas.

Harapannya pasca kegiatan ini, dapat tercipta investor-investor syariah baru. Mengingat di akhir acara, juga dilakukan pembukaan akun saham syariah secara bersama-sama yang dipandu oleh MNC Sekuritas.

Sumber :  http://www.ekonomisyariah.org

Workshop Pasar Modal Syariah Pandeglang



Pelaksanaan Workshop Pasar Modal Syariah di Pandeglang.

Kamis, 19 Juli 2018 PD MES Pandeglang bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia kembali mengadakan literasi dan inklusi pasar modal syariah di daerah Pandeglang.

Secara resmi acara dibuka oleh Ketua Umum PD MES Pandeglang, Ahmad Wihya Dipyana. Bertempat di Hall Rumah Makan “S” Rizki, acara dihadiri sekitar 107 peserta yang berasal dari kalangan pengusaha, karyawan, pengurus ormas, LSM dan pegawai pemerintahan.


Hadir dalam acara tersebut, Doddy Prasetya sebagai Narasumber dari Bursa Efek Indonesia dan Ibu Indah dari Indo Premier Sekuritas.

Harapannya pasca kegiatan ini, dapat tercipta investor-investor syariah baru. Mengingat di akhir acara, juga dilakukan pembukaan akun saham syariah secara bersama-sama yang dipandu oleh Indo Premier Sekuritas.

Sumber :  http://www.ekonomisyariah.org 

5 Perbedaan Zakat dan Infak dalam Alquran (Bagian 1 dari 5 tulisan)

Oleh : Muhammad Farid

Ada lima perbedaan Zakat dan Infak dalam Alquran :
Bagian 1. Penerima Manfaat
Bagian 2. Tujuan, 
Bagian 3. Latarbelakang, 
Bagian 4. Kadar (besaran) dan 
Bagian 5. Waktu pembayaran.


Sedekah terbagi dua yaitu materi dan non materi. Sedekah berupa non materi bisa berupa senyum, tenaga, pikiran/ide dll. Sebagaimana disebutkan dalam hadis : 

‎“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956)

Sedekah berupa materi terbagi dua yaitu zakat dan infak. Sedekah yang tujuannya membersihkan dan menyucikan dinamakan zakat. Sedangkan sedekah yang tujuannya selain itu disebut infak. Sebagaimana disebutkan di Alquran :

”Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.At Taubah, 9:103) 

Jadi sedekah dibagi dua : materi dan non materi. Sedekah materi dibagi dua : zakat dan infak. 

Berikut ini perbedaan zakat dan infak ditinjau dari segi penerima manfaat, tujuan, latarbelakang, kadar (besaran) dan waktu pembayaran.

1. Penerima

Zakat :

Dalam Alquran, ada 8 golongan penerima zakat. Seperti disebutkan di Alquran :

”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”. (QS.9:60)

Yang berhak mendapat zakat adalah :
1. Fakir
2. Miskin  
3. Amil
4. Muallaf
5. Budak
6. Ghorimin (orang yang terlilit hutang)
7. Fi sabilillah (Jalan Allah)
8. Ibnu Sabil (musafir)

Infak  : 

Sedangkan penerima infak disebutkan di beberapa ayat. Yaitu :

Mereka bertanya tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan" dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya. (QS.2:215)

”(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah… (QS.2:273)

“Dan berinfaklah di jalan Allah….. (QS.2:195)

Jadi, orang yang berhak mendapat infak adalah :
1. Kaum Kerabat: Orang tua, anak, istri, saudara, tetangga dekat, tetangga jauh. (4:36)
2. Anak yatim.
3. Miskin : Orang yang penghasilannya tidak mencukupi kebutuhannya.
4. Ibnu Sabil : Orang yang sedang dalam perjalanan
5. Fakir : Orang yang tidak mampu mencari penghasilan baik karena cacat, jompo atau karena berjuang dan berdakwah di jalan ALLAH. : QS :2:273, 59:8.
6. Jalan ALLAH (fi sabilillah) : QS 2;195, 2;261, 2;265, 47;38, 57;10

Ada empat persamaan penerima zakat dan infak yaitu fakir, miskin, musafir dan Jalan Allah.

>> Baca Bagian 2, Klik Disini!!

Bank Syariah, Baru Sampai Akad?

Oleh: Mujang Kurnia, S.E
(Ketua Bidang Kaderisasi dan Kepemudaan MES Wilayah Banten – Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN “SMH” Banten)

Keberadaan Ekonomi Syariah di Indonesia dikenal sudah lebih dari dua dasawarsa, dengan ditandai beridirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang merupakan Bank Umum Islam pertama yang beroperasi di Indonesia. Namun setelah diundangkannya UU No. 10/1998 tentang perubahan UU No. 7/1992 tentang Perbankan, secara tegas Sistem Perbankan Syariah ditempatkan sebagai bagian dari Sistem Perbankan Nasional. Maka dengan demikian, bank-bank umum dan bank-bank perkereditan rakyat konvensional dapat menjalankan transaksi perbankan syariah melalui pembukaan kantor-kantor cabang syariah, atau mengkonversikan kantor cabang konvensional menjadi kantor cabang syariah, terlebih ketika terjadi badai krisis ekonomi sejak tahun 1998 dan krisis keuangan global tahun 2008 telah membuktikan bahwa sistem ekonomi syariah yang diterapkan oleh perbankan Islam ini adalah yang lebih baik untuk diterapkan. Sehingga sejak itu pula, dalam beberapa tahun terakhir ini, perkembangan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) baik Bank maupun non Bank mengalami perkembangan yang pesat, walaupun pada saat yang bersamaan pangsa pasarnya (market share) masih dikisaran 5%  dan ini belum signifikan dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim. 
Kenapa hal ini bisa terjadi, barang kali karena sistem kapitalis masih mengakar sangat kuat di negeri ini, dan masyarakat belum banyak yang memiliki kesadaran untuk menggunakan sistem syariah ini, sehingga masih banyak masyarakat yang belum menggunakannya dan banyak pula yang berkomentar dan mengkritik terhadapa bank syariah dengan nada rethorik “katanya syariah, kok begini, kok begitu…” dan lain sebagainya,  ini bisa dimaklumi dan diwajarkan karena ekonomi syariah yang dikenal oleh masyarakat kini adalah yang terkait dengan bank, asuransi, pasar modal dan lain sebagainya, masih sangat mirip dengan versi konvensionalnya yang belum syariah, terlebih bank syariah yang belum sepenuhnya menerapkan sistem syariah yang menyeluruh. 
Dengan demikian, ketika ekonomi syariah dikembangkan dari produk atau institusi yang semula tidak syariah, hasilnya sedikit banyak membawa 'gen' dari asal produk atau institusinya yang semula memang tidak syar'i. 'Gen-gen' bawaan itulah yang kemudian menimbulkan pernyataan-pernyataan tersebut.
Jika diibaratkan, antara sistem kapitalis yang tengah berjalan dengan ekonomi syariah yang tengah hadir saat ini adalah seperti hubungan antara laki-laki dengan perempuan, kapitalisme itu adalah pasangan kumpul kebo. Asal dua belah pihak sudah suka sama suka, maka tidak perlu nikah resmi pun jadi. Riba pun dianggap halal karena terjadinya dari suka sama suka. Demikian pula dengan sumber daya alam, sumber modal, dan pasar yang dieksploitasi oleh segelintir orang pun dianggap sah karena pihak yang lain (masyarakat luas) pasrah dan menerima kondisi ini.
Maka hadirlah ekonomi syariah saat ini untuk mencegah terjadinya 'pasangan kumpul kebo' tersebut dengan menyerukan perlunya 'akad nikah', sehingga yang sebelumnya haram menjadi halal. Sekalipun perilaku pasangan yang dinikahkan tersebut masih mirip dengan perilaku kumpul kebo sebelumnya,  tetapi setidaknya secara akad mereka sudah menikah secara sah, dan secara akad sudah halal. Maka sangat wajar jika banyak masyarakat yang masih mengatakan, “Katanya Syariah, Kok…?”  karena sekali lagi baru akadnya yang didandani. Tetapi meskipun baru akadnya yang dihalalkan sedang perilakunya belum, bukan berarti masyarakat terus memilih kumpul kebo, melainkan yang menikah adalah lebih baik. 
Jadi apapun yang sudah terjadi saat ini, terlepas dari kekurangsempurnaanya, kita tetap harus mengapresiasi dan mendorong keberpihakan kita pada yang sudah menuju syar'i meskipun baru akadnya ketimbang melanggengkan yang sepenuhnya tidak syar'i. Kaidahnya adalah, kalau belum bisa sepenuhnya syar'i, jangan terus memilih yang sepenuhnya tidak syar'i. Kondisi ini digambarkan Ibarat pada suatu kondisi sedang lapar ditengah hutan, dihadapkan pada pilihan untuk menentukan salah satu makanan yang bisa dikonsumsi yaitu daging babi yang masih hidup dan bisa disembelih atau daging ayam yang sudah mati tetapi tidak disembelih. Keduanya tentu tidak boleh, tetapi adalah lebih baik mengkonsumsi daging ayam yang sudah menjadi bangkai ketimbang daging babi yang sudah jelas-jelas diharamkan dalam kondisi apapun.  
Kita harus terus berupaya menyempurnakannya dengan ekonomi syariah yang menyeluruh, sehingga mereka yang sudah ber-'akad menikah' secara sah dan halal tadi, mampu membina keluarga yang benar. Agar timbul sakinah di hati, dan mawaddah warahmah diantara keduanya, agar dari mereka kelak lahir generasi yang bertaqwa dan beriman sehinggan senantiasa berada dalam keridhoan Allah.
Selain itu, sekalipun baru sampai akadnya yang diterapkan dalam ekonomi syariah, tentu ini sangat penting dalam pelaksanaannya, karena dalam bank syariah sendiri, akad yang dilakukan berdasarkan hukum islam yang memilki konsekuensi duniawi dan ukhrawi. Sederhana dan terkesan sepele tetapi mengandung makna yang luas, sehingga ketika dilupakan akan membatalkan kenikmatan dan syariat Islam. Seperti contoh; Dihidangkan dua jenis masakan daging ayam, yang satu berdaging montok dan dijelaskan bahwa ayam tersebut merupakan ayam peliharaan yang dirawat. Sedangkan yang kedua merupakan ayam liar dengan sedikit dagingnya dan tidak pernah diperhatikan. Keduanya adalah sama-sama ayam, tetapi jenis ayam pertama dengan daging yang montok di sembelih dengan tanpa menyebut nama Allah, dan ayam yang kedua disembelih dengan menyebut nama Allah. Maka sekilas mungkin kebanyakan diantara kita akan memilih hidangan jenis pertama, terlebih dalam kondisi lapar, karena dagingnya lebih banyak dan akan cepat membuat kenyang, tetapi nilai keberkahannya ternyata berada pada ayam yang kedua meskipun dagingnya sedikit.
Begitulah kondisi yang terjadi saat ini dalam penerapan ekonomi syariah. Akan banyak yang mengatakan “sama saja…” dan lain sebagainya, karena itu perlu kesadaran dan terus penyempurnaan dalam penerapan ekonomi syariah di wilayah yang lebih mendasar  bukan sekedar pada akad-akadnya lagi, melainkan menyeluruh pada setiap aspek kegiatan yang dilakukan. Tidak hanya itu, hal-hal sederhanapun jangan ditinggalkan sebagai pembentukan citra baik yang membawa nama besar Islam. Seperti lingkungan kerja yang terus bersyariah. Dalam hal etika, setiap karyawan dilandasi sifat amanah dan shiddiq, sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Disamping itu, karyawan bank syariah harus skillful (fathonah), dan mampu melakukan tugas secara team-work dimana informasinya akan merata diseluruh fungsional organisasi (tabligh). Demikian pula dalam reward dan punishment, diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syariah.
Demikian pula dengan masyarakat, sebagai penduduk dengan jumlah muslim terbesar yang berada dalam satu negeri adalah tanggung jawab besar untuk menyempurnakan dan meneruskan penerapan ekonomi syariah secara menyeluruh dengan terus mendukung dan terlibat secara penuh, karena kalau bukan kita, siapa lagi?. Memang jalan yang syar’i itu tidak mudah dan mungkin lebih sulit dari yang tidak syar’i. ini adalah wajar karena jalan menuju syurga itu penuh rintangan, menanjak dan tidak disukai manusia, sebaliknya jalan ke neraka itu mudah, landai dan dipenuhi hal-hal yang sangat disukai manusia.

MES Banten Pertemukan Para Investor Syariah



Kamis (12/04/18), MES Wilayah Banten telah sukses melaksanakan Investor Gathering 2018 untuk para investor saham di Pasar Modal Syariah. Kegiatan dilaksanakan di RM  “S” Rizki, acara yang terlaksana berkat kerja sama antara MES dan Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sukses menarik antusias 38 peserta untuk hadir pada acara tersebut.

Investor Gathering ini yang secara terbuka mempertemukan para investor syariah pemula dengan pihak sekuritas. Kegiatan tersebut juga merupakan tindak lanjut dari acara Workshop Pasar Modal Syariah Kota Serang yang sudah dilaksanakan oleh MES di tahun sebelumnya.

Mengawali acara, Ade Jaya Sutrisna selaku Ketua II PW MES Banten berkenan memberikan sambutan.  Dilanjutkan dengan sesi materi seputar pasar modal syariah yang menghadirkan Derry selaku narasumber dari Bursa Efek Indonesia dan Sutrisna sebagai perwakilan dari MNC Sekuritas. 

Kedua narasumber sepakat bahwa kesadaran dari masyarakat untuk memulai dan kontinu dalam menabung saham merupakan faktor penting yang perlu terus didorong sedini mungkin. Salah satunya dengan penyelenggaran kegiatan-kegiatan roadshow pasar modal syariah yang secara konsisten masih dilakukan oleh MES.

Sebagai wujud keseriusan dalam mengembangkan pasar modal syariah di Indonesia, pada kesempatan tersebut MES memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bisa berkonsultasi langsung dengan MNC Sekuritas selepas acara usai.